Setelah bertahun-tahun protein jadi fokus utama, kini serat disebut ahli gizi sebagai nutrisi paling diremehkan 2026. Simak alasan dan cara memenuhi kebutuhannya.
Selama beberapa tahun terakhir, protein selalu jadi bintang utama dalam setiap perbincangan soal nutrisi.
Namun, memasuki 2026, para ahli gizi mulai mengalihkan sorotan ke nutrisi lain yang justru selama ini kerap terabaikan begitu saja.
Nutrisi tersebut adalah serat, komponen makanan yang ternyata jauh lebih krusial dari yang selama ini banyak orang sadari.
Pergeseran fokus ini pun mulai ramai dibahas oleh akun-akun edukasi gizi di Instagram dan TikTok belakangan ini.
Data dari American Society for Nutrition mengungkap fakta yang cukup mencengangkan.
Hanya sekitar 7 persen orang dewasa di Amerika Serikat yang benar-benar memenuhi kebutuhan serat harian mereka.
Kondisi ini diperkirakan tidak jauh berbeda di Indonesia, mengingat pola makan modern yang semakin didominasi makanan olahan rendah serat.
Padahal, kebutuhan serat harian yang ideal berada di kisaran 30 gram, jumlah yang ternyata sulit dipenuhi kebanyakan orang tanpa perencanaan matang.
Priya Tew, seorang dietitian asal Inggris, menyebut serat sebagai nutrisi yang selama ini paling diremehkan padahal perannya sangat besar.
Serat berfungsi sebagai prebiotik alami yang memberi makan bakteri baik di dalam usus, sehingga menjaga keseimbangan mikrobioma pencernaan.
Selain itu, konsumsi serat yang cukup terbukti membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah.
Serat juga berperan besar dalam menjaga kestabilan gula darah, faktor yang sangat penting untuk mencegah risiko diabetes tipe 2 di kemudian hari.
Tren tinggi protein yang sempat mendominasi dunia kebugaran beberapa tahun terakhir kini perlahan mulai bergeser arah.
Sebagaimana dijelaskan [Halo Pedeka], perhatian publik di tahun ini mulai beralih dari sekadar mengejar angka protein menuju kesadaran akan pentingnya asupan serat bagi kesehatan jangka panjang.
Konsumsi kacang-kacangan atau legum turut diprediksi ikut melonjak, mengingat harganya yang terjangkau namun kaya manfaat untuk menurunkan risiko kematian dini.
Pergeseran ini menandakan masyarakat mulai memahami bahwa nutrisi seimbang tidak bisa hanya berpatokan pada satu jenis zat gizi saja.
Kabar baiknya, memenuhi kebutuhan serat harian sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan banyak orang.
Biji chia, kacang-kacangan, oatmeal, serta sayuran hijau merupakan beberapa contoh sumber serat yang mudah diakses dan relatif terjangkau.
Buah-buahan dengan kulit yang bisa dimakan, seperti apel dan pir, juga menjadi cara praktis menambah asupan serat harian tanpa perlu usaha ekstra.
Kunci utamanya adalah meningkatkan konsumsi secara bertahap, bukan langsung dalam jumlah besar, agar sistem pencernaan tidak kaget dan mengalami gangguan.
Berbeda dari tren diet viral yang biasanya cepat datang dan pergi, fokus pada asupan serat ini didukung bukti ilmiah yang sudah lama dikenal dalam dunia gizi klinis.
Para ahli menegaskan bahwa manfaat serat terhadap kesehatan pencernaan dan metabolisme sudah terbukti secara konsisten dalam berbagai penelitian selama bertahun-tahun.
Oleh karena itu, alih-alih menganggapnya sebagai tren sesaat, kebiasaan memperbanyak asupan serat sebaiknya dijadikan komitmen jangka panjang.
Setelah bertahun-tahun protein mendominasi obrolan seputar nutrisi, kini saatnya serat mendapatkan perhatian yang selama ini seharusnya sudah ia dapatkan.
Memperbaiki asupan serat harian bisa jadi langkah sederhana namun berdampak besar bagi kesehatan pencernaan dan metabolisme tubuh dalam jangka panjang.
