Badan Gizi Nasional (BGN) menyoroti sejumlah tantangan besar dalam pembangunan gizi nasional. Sorotan ini disampaikan dalam rangkaian Pekan Gizi Nasional yang berlangsung 1-7 September 2026.
Talk show bertema “Tantangan dan Permasalahan Gizi Nasional” ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi gizi masyarakat.
Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Dodi Iswar, menyebut hambatan terbesar bukan cuma soal ketersediaan pangan. Melainkan pemahaman dan perilaku masyarakat terhadap gizi itu sendiri.
Menurutnya, pemahaman gizi perlu dipahami semua pihak. Mulai dari pembuat kebijakan sampai keluarga, karena gizi ikut menentukan kualitas generasi mendatang.
Stunting disebut masih menjadi isu besar karena sifatnya lintas generasi. Persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya lewat intervensi kesehatan semata.
Selain stunting, Indonesia juga menghadapi apa yang disebut beban gizi ganda. Yaitu kondisi ketika masalah gizi kurang dan gizi lebih terjadi bersamaan di masyarakat.
Perubahan pola makan turut memicu masalah gizi ganda tersebut. Konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak masih cukup tinggi di berbagai kelompok usia.
Sementara itu, asupan protein, serat, vitamin, dan mineral dari bahan pangan alami dinilai belum optimal. Kondisi ini berisiko meningkatkan penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi.
Melalui momentum Pekan Gizi 2026, BGN terus memperkuat kolaborasi lintas sektor. Tujuannya supaya intervensi gizi lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Upaya ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
**Sumber:**
– BGN.go.id — BGN Soroti Tantangan Nyata Pembangunan Gizi Nasional
– RS Roemani Muhammadiyah Semarang — Hari Gizi Nasional 2026 dan Pentingnya Gizi Seimbang
