Selama ini, kebanyakan orang hanya mengenal diabetes tipe 1 dan tipe 2.
Namun dunia medis kini resmi mengakui klasifikasi baru bernama diabetes tipe 5,
kondisi yang ternyata banyak ditemukan pada kelompok usia remaja dengan riwayat malnutrisi.
Pengakuan resmi terhadap diabetes tipe 5 menandai pergeseran penting dalam pemahaman dunia medis terhadap penyakit metabolik ini.
Selama bertahun-tahun, kasus-kasus yang tidak sepenuhnya cocok dengan karakteristik diabetes tipe 1 maupun tipe 2 sering kali disamaratakan begitu saja,
padahal mekanisme dan penyebabnya bisa sangat berbeda.
Klasifikasi baru ini penting karena pendekatan penanganan diabetes tipe 5 kemungkinan besar memerlukan strategi berbeda dibanding dua tipe diabetes yang sudah lebih dulu dikenal luas,
mengingat akar penyebabnya juga tidak sama.
Berbeda dari diabetes tipe 2 yang umumnya berkaitan dengan obesitas dan gaya hidup, diabetes tipe 5 justru banyak ditemukan pada remaja dengan riwayat malnutrisi. Temuan ini cukup mengejutkan, mengingat selama ini diabetes sering diasosiasikan dengan kondisi kelebihan berat badan, bukan kekurangan gizi.
Pola ini menunjukkan bahwa gangguan metabolisme glukosa ternyata bisa muncul dari dua arah yang berlawanan:
baik akibat kelebihan asupan kalori maupun akibat kekurangan nutrisi penting dalam jangka panjang, terutama pada masa pertumbuhan yang krusial seperti usia remaja.
Remaja yang mengalami malnutrisi kronis, khususnya di negara berkembang dengan tingkat gizi buruk yang masih tinggi, jadi kelompok paling rentan terhadap kondisi ini.
Kurangnya asupan nutrisi penting selama masa pertumbuhan diduga memengaruhi perkembangan dan fungsi organ yang berperan dalam regulasi gula darah, termasuk pankreas.
Temuan ini menambah kompleksitas persoalan gizi di berbagai negara, termasuk Indonesia,
yang masih menghadapi tantangan ganda antara masalah gizi kurang dan gizi lebih secara bersamaan di populasi yang berbeda.
Diagnosis yang akurat menjadi kunci penting dalam penanganan diabetes tipe 5.
Kesalahan mengklasifikasikan kondisi ini sebagai diabetes tipe 1 atau tipe 2 konvensional berpotensi menyebabkan pendekatan pengobatan yang kurang tepat sasaran,
mengingat mekanisme penyakitnya yang berbeda.
Tenaga medis kini diimbau lebih waspada terhadap kemungkinan diabetes tipe 5 ketika menangani pasien remaja dengan riwayat malnutrisi
yang menunjukkan gejala gangguan gula darah, alih-alih langsung mengasumsikan diagnosis diabetes konvensional tanpa penelusuran riwayat gizi yang lebih mendalam.
Temuan soal diabetes tipe 5 ini sekaligus jadi pengingat penting betapa krusialnya pemenuhan gizi seimbang sejak usia dini.
Mencegah malnutrisi bukan cuma soal menghindari stunting atau gangguan pertumbuhan fisik semata, tapi kini juga terkait dengan
pencegahan risiko gangguan metabolik jangka panjang yang baru mulai dipahami dunia medis secara lebih mendalam.
—
Sumber:
– Liputan6 —
