Demam Berdarah Dengue masih jadi persoalan kesehatan yang serius di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan hingga Mei 2026 mencatat angka yang cukup mengkhawatirkan. Tercatat ada 39.672 kasus DBD di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, 105 orang meninggal dunia akibat penyakit ini.
Menurut Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama, dr Muhammad S Niam, persoalan DBD tidak bisa disederhanakan. “Meskipun demam berdarah dengue telah menjadi masalah kesehatan di Indonesia selama puluhan tahun, angka kasus dan kematian masih relatif tinggi karena penyebabnya bersifat multifaktorial,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa tingginya kasus DBD berkaitan dengan berbagai aspek yang saling terhubung. Faktor lingkungan jadi salah satu penyebab utama. Perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan juga sangat berpengaruh. Sistem pelayanan kesehatan yang belum merata di berbagai daerah turut memperparah situasi ini.
DBD memang bukan penyakit baru bagi Indonesia. Sejak pertama kali teridentifikasi pada 1968, kasusnya terus berulang setiap tahun. Pola ini erat kaitannya dengan iklim tropis Indonesia yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sepanjang tahun. Genangan air di sekitar rumah menjadi tempat favorit nyamuk ini bertelur.
Suhu udara juga ikut memengaruhi seberapa sering nyamuk menggigit. Semakin panas cuaca, semakin sering nyamuk mencari mangsa untuk bertahan hidup. Kondisi ini membuat musim kemarau maupun musim peralihan sama-sama berisiko tinggi bagi penyebaran DBD.
Gejala awal DBD sering kali mirip flu biasa. Penderita biasanya mengalami demam tinggi mendadak. Nyeri otot dan sendi juga sering menyertai. Sakit kepala hebat, terutama di belakang mata, jadi tanda lain yang perlu diwaspadai. Pada kasus yang lebih serius, bisa muncul bercak kemerahan di kulit hingga perdarahan ringan seperti mimisan.
Penting untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan begitu gejala-gejala ini muncul. Penanganan yang cepat terbukti sangat membantu menurunkan risiko komplikasi serius akibat DBD.
Pencegahan DBD sebenarnya bisa dimulai dari langkah sederhana di rumah masing-masing. Rutin menguras tempat penampungan air jadi langkah pertama yang wajib dilakukan. Menutup rapat wadah air juga membantu mencegah nyamuk bertelur. Mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan sama pentingnya.
Selain itu, penggunaan kelambu saat tidur dan losion anti-nyamuk di siang hari juga efektif mengurangi risiko gigitan. Koordinasi dengan lingkungan sekitar untuk fogging berkala juga penting dilakukan, terutama saat kasus di suatu wilayah mulai meningkat tajam.
—
Sumber:
– NU Online Jatim — https://jatim.nu.or.id/nuonline/penyakit-dbd-jadi-ancaman-serius-bagi-kesehatan-ada-39-ribu-kasus-dengan-105-kematian-EfDJi
